Hati dan Realita

Satu persatu ia berguguran
dihempas angin juga deburan
ia jatuh tanpa terluka
mengerang tak bisa bersuara
tersulut bara yang tak
mudah dipadamkan

Buntukah jalan pikirannya?
tak ada api dilenteranya
hanya negatif
mendominasi positif
meracau penuh emosi
sulit bahkan tuk berhenti

Ia mungkin bersemi kembali
dengan duri tajam
tertancap disemua sisi
Ia mekar dan memberi wangi
lalu mati meniada
sampai bebal hingga terbiasa


Memoar Bola Kaca
Bandung
Y.

Aku Adalah Puisi

Berulang kali syair tertuang tanpa makna berarti
Mengisahkan kepiluan hendak mencari arti
Satu bait, dua bait, sampai seratus bait hanya kosong, hampa

Kisah ini drama, demonstrasi, derita
Berkoar menarik perhatian sang acuh
Dilema memang!

Kata seolah kehilangan kekuatannya,
Pembuktian dinanti tapi omong kosong
Tak satupun mengerti, bicara percuma, diam tak bersolusi

Aku adalah puisi terbuang
Bicara tapi tak terdengar, merintih tak terlihat
Ini kisahnya, kisah puisi

Bandung,
VP

Tuli

pantaskah kau membenci dirimu?
Tak ada yang pernah tahu rasanya jadi dirimu

Lalu buat apa kau dengarkan mereka?

Jangan! masalahmu pun mereka pandang sebelah mata

Cipaganti Kala Itu

Lalu aku bertanya pada bintang sendiri,
Tidakkah ia kesepian?
Tidakkah ia lelah bersinar seorang diri?

Langit luas,
Namun hitam menggambarkan begitu engkau kesepian,
Begitu engkau lelah sendiri.

Tenggelam dalam awan menyerbu cahaya yang samar-samar terlihat,
Indah; namun begitu jauh,
Begitu lelah untuk digenggam.

Bandung,
Yellow Caturra Peaberry V60
VP

Sial

Aku pernah memberikan semuanya. Tapi harapan hanyalah timbunan keinginan yang tak terjadi. Lalu kecewa meninggalkan ruang gelap.

Jangan salahkan aku. Alam sadarku pun tak mampu meneranginya.

Lagi.

Sial, Memori itu kadang menyebalkan.

Pesawat Harapan

Terbanglah bersama harapan yang tertulis diawakmu.
Sampaikan kepadanya, aku tidak pergi.
Aku menunggunya pulang, diujung batas penantian.

Bandung,
Memoar Yellow Caturra Peaberry, V60
Y.

Manis

Manis tak selalu baik
seperti hari ini
vanila latte ku manis namun tak habis
cerita si kuning manis tapi menggantung
city light manis namun jauh
kau manis namun ku tak sanggup.

Adinda

Burung berkicau.
Indah; namun itu saja yang ia bisa.
Engkau manusia.

Jiwa melayang di awan.
Bahagia; namun matahari membakarnya.
Hati tak berperasaan.

Duhai engkau.
Aku; namun ragu.
Cinta memang cacat.

Bandung,
Memoar Yellow Catura Peaberry, V60
Y.

Dia sedang menyanyi

Rejeki anak soleh
Katanya sedang ngelindur

Meyakinkan diri

Ah, Bangsat

Lelah hati ini kupaksakan untuk melangkah
sesak dan tak ada ruang untuk bernapas
engkau menangis tanpa arti
engkau marah mencari seribu alasan
cukuplah, lebih baik aku diam saja

Kau pikir aku ini makhluk apa?
kau pula yang biarkan semua perlahan mati, hati jiwa
serasa sampai tak ada lagi cinta tersisa
mungkinkah segalanya telah sirna?
sudahlah, tak lagi ada yang perlu tuk dibicarakan

Dipikiranmu hanya soal bagaimana isi hatimu
di anganmu penuh dengan untaian mimpi indahmu
sampai akhirnya kau selalu lupa akan satu hal
sekalipun tak kau tanyakan apa resahku
ah, bangsat

Memoar Bola Kaca,
Bandung
Y.